(Unila): Universitas Lampung (Unila) terus mempercepat transformasi layanan berbasis digital melalui penguatan kapasitas pengelolaan data dan informasi di tingkat universitas, fakultas, hingga jurusan.
Komitmen ini ditegaskan dalam kegiatan Pelatihan Petugas Data dan Informasi yang digelar di gedung Rektorat lantai empat Unila, Jumat, 13 Februari 2026, sekaligus menjadi momentum awal pengembangan integrasi layanan melalui dashboard ult.unila.ac.id.
Tim pengembang dashboard ult.unila.ac.id, Dr. Aristoteles, S.Si., M.Si., menegaskan, pengembangan sistem ini bertujuan menyatukan berbagai aplikasi yang selama ini berjalan terpisah.
Menurutnya, saat ini terdapat lebih dari 100 aplikasi yang tersebar di berbagai unit dan belum terintegrasi secara optimal.
“Kita ingin menyatukan aplikasi-aplikasi tersebut menjadi satu sistem terpadu. Aplikasi yang sudah stabil silakan tetap berjalan, tetapi yang masih lambat akan kita perbaiki dan integrasikan. Ini bagian dari ikhtiar kita mengubah proses manual menjadi digital,” ujarnya.
Ia menjelaskan, konsep sistem yang tengah dikembangkan mengusung semangat “Satu Data” dengan pendekatan lokal yang mudah dipahami sivitas akademika.
Aplikasi ini dirancang menyerupai kemudahan penggunaan Google Form, sehingga memudahkan admin dalam membuat layanan sekaligus memudahkan pimpinan dalam memantau data secara real time.
“Pelayanan ke depan kita harapkan dari satu pintu dan berjalan secara digital. Era sudah berubah, layanan harus cepat, dan kita juga butuh feedback untuk mengukur seberapa baik layanan yang kita berikan kepada mahasiswa,” kata Aristoteles.
Transformasi ini juga menyasar proses-proses layanan yang selama ini masih dilakukan secara manual, seperti pengajuan proposal, pengesahan dokumen, hingga alur verifikasi berjenjang dari jurusan ke fakultas dan universitas.
Seluruh proses tersebut diupayakan beralih ke sistem pengiriman berkas digital dengan tanda tangan elektronik. “Proses kirim berkas kita dorong dalam bentuk digital, ditandatangani secara digital, sehingga mahasiswa tidak perlu lagi bolak-balik membawa dokumen fisik. Ini salah satu contoh layanan yang kita migrasikan,” jelasnya.
Dalam tahap awal, pengembangan sistem dilakukan melalui brainstorming untuk menjaring ide dan kebutuhan riil dari setiap unit kerja. Tahap berikutnya akan dilanjutkan dengan pendalaman teknis, pelatihan, hingga pendampingan agar aplikasi benar-benar dapat digunakan secara efektif.
Aristoteles menekankan pentingnya partisipasi aktif peserta dalam memberikan masukan. “Hari ini kita dengarkan bersama, keluarkan ide-ide kreatif. Tidak ada yang tidak mungkin selama kita punya niat positif untuk memperbaiki layanan. Kita ingin proses manual berubah menjadi digital secara bertahap dan terukur,” tegasnya.
Sistem yang diperkenalkan membagi peran pengguna ke dalam beberapa klaster, yakni level universitas, fakultas, jurusan, serta pemohon (mahasiswa dan dosen), dengan pembagian tugas yang jelas antara admin dan validator.
Skema ini memastikan standar operasional prosedur (SOP) berjalan terstruktur, mulai dari pembuatan layanan, pengajuan oleh pemohon, hingga proses verifikasi berjenjang sesuai kebutuhan. [Riky Fernando]





